Arang Batok Kelapa Beromzet Miliaran

Batok atau tempurung kelapa kerap kali dibuang begitu saja di pasar-pasar tradisional. Padahal, batok kelapa bisa sebagai bahan baku mentah untuk diolah menjadi arang. Produk arang batok kelapa sebagai bahan baku setengah jadi itu pun dapat diolah lagi menjadi produk arang yang inovatif.
Produk batu arang tempurung kelapa (coconut shell briquette charcoal) dapat diproduksi sesuai kebutuhan pasar dan menjadi produk ekspor unggulan. Pengolahan tempurung kelapa menjadi arang dilakukan dengan cara pembakaran. Setumpuk tempurung kelapa dimasukkan ke dalam drum. Kemudian, tempurung kelapa dibakar. Setelah itu, tempurung kelapa yang belum dibakar dimasukkan lagi setahap demi setahap ke dalam drum.
Hal itu terus-menerus dilakukan sampai drum penuh dengan tempurung kelapa. Setelah penuh, drum ditutup dan seluruh batok kelapa di dalam drum mengalami proses pembakaran. Lambat laun, tempurung kelapa akan menjadi arang. Setelah dipisahkan dengan sampah- sampah hasil pembakaran itu, arang tempurung kelapa akan menjadi bahan baku produk arang inovatif yang akan diekspor ke pasar dunia.
Pembakaran tempurung kelapa itu dilakukan pekerja di PT General Carbon Industry (PT GCI) di Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Sayangnya, jumlah tempurung kelapa—sebagai bahan baku dasar—untuk dibakar menjadi arang itu masih sangat terbatas.
Akibatnya, PT GCI harus mendapat pasokan arang tempurung kelapa sebagai bahan baku dari pemasok yang berasal dari berbagai daerah, seperti Provinsi Riau dan Kepulauan Riau. PT GCI membutuhkan 300-400 ton arang tempurung per bulan sebagai bahan baku untuk produksi arang tempurung yang inovatif. ” Empat kilogram tempurung atau batok kelapa hanya dapat menghasilkan 1 kilogram arang tempurung,” kata General Manajer PT GCI Tonny. Jika kebutuhan bahan baku arang tempurung 300-400 ton per bulan, berarti dibutuhkan 1.200 ton batok kelapa per bulan.
Dari arang tempurung, PT GCI mengolah atau memprosesnya lebih lanjut menjadi produk arang yang berorientasi ekspor. Arang tempurung dibentuk dan dicetak dengan mesin pencetak sesuai kebutuhan pasar. Setelah dicetak, produk arang itu pun masih harus dipanaskan dalam mesin pemanas. Volume produksi arang tempurung PT GCI saat ini mencapai 300 ton per bulan.
Untuk produk tertentu, menurut Tonny, produk arang itu juga diberi bahan kimia. Fungsi bahan kimia itu hanya untuk dapat menyalakan api pada arang tersebut tanpa harus menggunakan bahan bakar, seperti minyak tanah.
Untuk mengontrol kualitas arang tempurung, PT GCI juga memiliki beberapa alat kontrol. Sebelum produk dikirim, arang tempurung yang diproduksi juga diuji coba untuk melihat kualitas, seperti lama pembakaran pada arang.
Saat ini, arang tempurung kelapa yang diproduksi PT GCI sudah menembus pasar dunia. Di Eropa, arang tempurung PT GCI menembus Perancis, Belgia, Belanda, Inggris, Austria, Italia, Jerman, Swedia, dan Denmark.
Di Asia, produk arang PT GCI menembus pasar Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Bahkan, PT GCI juga menggarap pasar Timur Tengah (Timteng), seperti Lebanon dan Suriah.
Dari ekspansi ke pasar dunia itu, menurut Tonny, nilai ekspor per tahun rata-rata 1 juta-1,2 juta dollar AS (sekitar Rp 9,5 miliar-Rp 10,8 miliar). ”Nilai ekspor per tahun mencapai belasan miliar rupiah,” katanya.
Potensi pasar
Potensi pasar ekspor produk arang tempurung masih besar. Di Eropa, arang tempurung dibutuhkan untuk memanggang daging (barbecue).
Di Timteng, arang tempurung lebih banyak digunakan untuk ”merokok” atau shisha. Sementara itu, di Asia, seperti Jepang dan Korea Selatan, arang tempurung digunakan untuk keperluan memasak di restoran.
Arang tempurung dinilai memang lebih mudah masuk ke pasar dunia, khususnya Eropa. Produk itu lebih mudah digunakan. Kualitas dinilai lebih baik daripada arang berbahan baku tanaman bakau. ”Daya tahan pembakaran arang tempurung lebih lama,” kata Tonny.
Produk arang tempurung juga dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak merusak tanaman, seperti tanaman bakau. Apalagi, isu pemanasan global yang sangat sensitif di Eropa.
Direktur Utama Avava Group, yang membawahi PT GCI, Tarman mengungkapkan, arang tempurung yang diproduksi PT GCI biasanya diubah nama produk oleh pemesan. Namun, pihak PT tetap mensyaratkan pada kemasan tetap dicantumkan ”buatan Indonesia”.
Jika tidak mencantumkan ”buatan Indonesia”, pihak PT GCI membatalkan pemesanan. ”Label buatan Indonesia memang harus dicantumkan. Itu kebanggaan. Produk arang bisa memasuki Eropa dan negara- negara lain,” kata Tarman. Saat ini, pihak PT GCI berencana memperluas produksi mengingat pesanan kian banyak.
Tarman menjelaskan, industri pembuatan arang tempurung yang dilakukan PT GCI saat ini pada mulanya merupakan industri milik investor dari Korea Selatan tahun 2004. Namun, industri itu merugi.
Tahun 2007, lanjut Tarman, pihaknya mengambil alih dan meneruskan bisnis arang tempurung kelapa. Pemasaran pun terus dilakukan. Dengan peluang pasar ekspor yang besar, itu berarti kebutuhan bahan baku batok kelapa pun akan semakin besar. Peluang itu pun seharusnya dapat ditangkap oleh pelaku usaha kecil dan menengah untuk memanfaatkan batok kelapa.
Batok kelapa dapat dimanfaatkan untuk pembuatan arang. Arang dari batok kelapa pun dapat menjadi bahan baku bagi industri menengah untuk diolah lebih lanjut menjadi produk arang berorientasi ekspor.
Pantas Saja Harga Tokek Bisa Selangit!

KOMPAS.com — Dengan iming-iming akan mendapatkan keuntungan besar, seorang pemuda bernama Firdaus (21) dalam satu tahun terakhir telah menggeluti bisnis jual beli binatang yang kabarnya dapat menyembuhkan HIV/AIDS itu.
“Saya sudah 1 tahun bisnis tokek. Awalnya saya kenal sama seseorang bernama Mat Nur, lalu kita diskusi bagaimana caranya dapat duit banyak. Terus saya dengar tokek harganya mahal, ya udah sejak itu saya cari tokek dan saya jual-beliindeh,” kata Firdaus saat ditemui Kompas.com di kediamannya di Kawasan Cipete Selatan, Jakarta, Jumat (25/9).
Untuk memelihara tokek-tokek itu, Firdaus mengaku tidak pernah mengalami kesulitan. Pasalnya, memelihara tokek, menurutnya, tidaklah sulit. Selain itu, ongkos makan juga tidak mahal. “Ternak tokek sebenarnya gampang. Satu minggu kita cuma kasih dia makan jangkrik seharga Rp 5.000 sebanyak dua kali. Artinya satu tokek seminggu biaya makannya Rp 10.000,” katanya.
Jumlah tokek yang dimiliki Firdaus saat ini delapan ekor. Dari delapan tokek yang dimilikinya, berat maksimal adalah 2 ons, sedangkan yang paling ringan 1 ons. Meski telah 1 tahun berbisnis tokek, Firdaus mengaku belum pernah merasakan menjual tokek dengan harga yang fantastis. Harga tertinggi yang pernah didapatkan hanya Rp 2 juta. Ini karena tokek yang dimilikinya hanya memiliki berat maksimal 2 ons.
“Susah cari tokek yang besar. Tokek besar banyaknya di daerah, kalau di Jakarta jarang. Paling ada kecil-kecil,” katanya. Harga tokek bervariasi. Sementara itu, mengenai harga jual tokek di pasaran, menurut pria bujang ini, tergantung berat tokek itu sendiri. Semakin besar atau berat tokek, harganya makin mahal.
“Kalau tokek ukuran 1 ons di pasaran bawah (bukan harga dari eksportir) Rp 100.000, kalau tokek 1,5 ons Rp 200.000, tokek ukuran 2 ons Rp 500.000 sampai Rp 2 juta. Tokek 2,5 ons harganya antara Rp 5 juta dan Rp 30 juta,” paparnya.
Menurutnya, harga tokek mulai beranjak tinggi jika memiliki berat di atas 3 ons. Harga tokek dengan berat 3 ons sendiri, menurutnya, memiliki harga dari Rp 30 juta hingga Rp 100 juta-an, sedangkan tokek dengan berat 3,5 sampai 4 ons biasa dihargai dengan Rp 100 juga hingga Rp 800 juta. “Harganya bervariasi karena tiap bos beda harganya,” ujarnya.
Binatang sensitif
Lebih lanjut, Firdaus mengatakan, tokek merupakan jenis binatang yang cukup sensitif. Reptil yang masuk golongan cicak besar, suku Gekkonidae, ini gampang stres.
“Kalau dibawa pindah dari satu tempat ke tempat lain akan kelihatan. Pernah teman saya bawa dari Padang ke Jakarta buat dijual. Dari Padang beratnya 7 ons. Eh pas sampai Jakarta beratnya turun jadi 2 ons. Ternyata pas ditanya ke orang yang ngerti, itu gara-gara stres. Malah yang lebih parah lagi, teman saya bawa (tokek) dari Tanah Abang (Jakarta Pusat) ke Pasar Minggu. Eh pas sampai tujuan tokeknya mati. Akhirnya gagal dijual,” ungkapnya.
Menurut Firdaus, tokek adalah binatang yang sejak dulu dikenal dapat menjadi obat. Daging tokek, menurutnya, dipercaya banyak orang merupakan obat gatal. Begitu juga dengan darah dan empedu tokek.
“Konon, empedu tokek yang sudah jadi kristal bisa jadi obat apa aja. Itu biasanya kalau tokeknya sudah 4 ons beratnya. Terus, tokek juga katanya bisa jadi obat HIV/AIDS, tapi enggak tahu apanya. Ada yang bilang darahnya, dagingnya, lidahnya,” ujarnya.
Waralaba Makanan Cepat Jenuh?

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Usaha waralaba di bidang makanan lebih cepat jenuh dibanding bidang lain. Dari sekitar 20 usaha waralaba makanan yang muncul di DIY, saat ini hanya sekitar 35 persen yang bisa terus berkembang.
Ketua Paguyuban Alumni Waralaba Yogyakarta Annas Yanuar mengatakan, pertumbuhan waralaba makanan di DIY cukup tinggi. Selain waralaba lokal, ada banyak waralaba dari luar yang masuk. “Hal itu membuat masyarakat cepat merasa jenuh dengan jenis-jenis makanan yang ditawarkan. Usaha makanan itu paling riskan karena larinya ke rasa . Kalau tidak ada variasi konsumen akan cepat jenuh,” katanya, Senin (5/10).
Walaupun banyak usaha waralaba yang tidak berlanjut, lanjut Annas, animo pengusaha untuk mewaralabakan usahanya masih besar. Permintaan dari calon investor pun masih ti nggi. Banyaknya mahasiswa di DIY dianggap sebagai pasar potensial bagi usaha waralaba. Pemilik Soto Ponorogo dan Bakmi Kadin, misalnya, tengah menjajagi kemungkinan untuk mewaralabakan usahanya.
Menurut Annas, kreativitas pelaku wirausaha di DIY dalam menciptakan ide usaha memang tinggi. Secara nasional, saat ini jumlah usaha waralaba yang muncul di DIY menempati posisi kedua setelah Jakarta. “Waralaba di bidang jasa, pendidikan sampai kuliner tetap diminati. Jumlah yang muncul di DIY sekitar 50-an, dengan ribuan gerai yang tersebar ke seluruh Indonesia,” ujarnya.
Secara terpisah, pemilik usaha waralaba Tela Tela Febri Triyanto mengatakan, usaha di bidang makanan memang memiliki siklus jenuh. “Jika dulu di DIY ada 100 gerai Tela Tela, kini jumlahnya tinggal sekitar 50 gerai. Sedangkan secara nasional Tela Tela saat ini punya 1.650 gerai. Tahun 2005 gerobak Tela Tela di DIY sangat banyak. Di satu sisi omzetnya bisa sangat tinggi, di sisi lain itu menimbulkan kejenuhan dan persaingan sehingga perlu dikurangi,” katanya.
Menurut dia, bertahannya usaha waralaba juga sangat tergantung pada faktor manusia. Meski menjadi usaha sampingan, pembeli merek waralaba harus tetap menseriusi usahanya. Selain itu, inovasi produk harus terus dilakukan.
Kemal Arsjad, Bangkit lewat Tombol BlackBerry

Bangkit dari masa lalu yang kelam. Begitulah tekad yang dijalankan Kemal Arsjad hingga sukses mendirikan Better-B, perusahaan pembuat aplikasi telepon seluler BlackBerry.
Sekalipun lahir dari keluarga yang mapan dan kuliah di Universitas Pelita Harapan (UPH) yang mahal, Kemal harus menjalani masa muda yang kelabu.
Sembari kuliah di Jurusan Marketing UPH, pada 1994, Kemal menjalankan bisnisnya, mengelola gokart off road dan berbagai event organizer di Bukit Sentul. Bisnisnya lumayan sukses. Tapi, sayang, Kemal terjerumus dalam dunia obat-obatan terlarang. Alhasil, kuliahnya pun molor tujuh tahun dan hampir drop out (DO).
Bukan itu saja. Duitnya nyaris habis. “Pada tahun 2000, saya bangkrut dan sempat tidak punya apa-apa lagi,” kenang Kemal. Untungnya, ia bisa lulus kuliah pada 2001.
Biarpun sudah bangkrut, Kemal masih belum putus asa. Ia ingin membangun kembali bisnisnya. Hanya, pintu jaringan sudah tertutup baginya. “Cap anak bengal sudah melekat. Kala itu benar-benar saya terpuruk,” kenang Kemal, pahit.
Kemal lalu memutuskan untuk menjalani rehabilitasi di sebuah pondok pesantren. “Saya mulai menyadari kesalahan,” ujar Kemal, sembari senyum.
Setelah lulus kuliah pada 2001, Kemal sempat kerja di Elnusa. Saat bertugas ke Dumai, Riau, kepekaan sosial Kemal disentil. Ia melihat masyarakat Dumai tidak banyak menikmati kekayaan minyak di tanah mereka sendiri. Melihat kondisi itu, Kemal termotivasi untuk bangkit dan menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Ia pun memberanikan diri keluar dari pekerjaannya.
Titik balik kehidupan Kemal lahir dari sebuah ketidaksengajaan. Karena sangat menggemari gadget, Kemal tertarik untuk menjalankan bisnis yang berkaitan dengan gadget.
Memang, latar belakang pendidikannya bukan di dunia teknologi informasi. Tapi, Kemal paham benar mengenai gadget. Maklum, ia ganti ponsel setiap dua bulan–tiga bulan sekali.
Nah, ide untuk berbisnis TI berawal dari ponsel pintar BlackBerry, yang dibeli Kemal pada tahun 2006. Dari pengalaman memakai BlackBerry, Kemal tahu bahwa terjadi pergeseran pada para pemakai ponsel pintar tersebut. Pasalnya, orang tidak hanya menggunakan BlackBerry untuk berkomunikasi belaka, namun juga untuk menikmati hiburan. “Itu menjadi celah bisnis,” ujar lelaki kelahiran 1976 ini.
Kemal lalu bergabung dengan milis BlackBerry dunia. Dari hasil diskusi dengan beberapa anggota komunitas BlackBerry, ia menggali kebutuhan konsumen ponsel. Bersama teman-temannya, Kemal lalu mulai mengeksplorasi dan mencoba membuat beberapa aplikasi untuk layanan smartphone itu.
Tidak diacuhkan RIM
Kemal kemudian mencoba mencari informasi bagaimana cara menjadi rekanan Research in Motion (RIM) selaku produsen BlackBerry yang berbasis di Kanada. Ia mengirim e-mail permohonan ke Kanada.
Sayang, usaha Kemal tidak membuahkan hasil. Tidak ada satu pun pejabat RIM yang menjawab e-mailnya. Sampai suatu ketika di tahun 2008, Kemal bertemu dengan manajer marketing senior RIM Asia Pasifik pada acara BlackBerry di Senayan City, Jakarta.
Kemal memberanikan diri menyampaikan ide untuk membuat aplikasi BlackBerry. Dengan bekal pengetahuan di bidang pemasaran dan hobi gadget-nya, Kemal menjelaskan secara singkat tentang hitung-hitungan potensi pasar dan pendapatan secara umum. “Hebatnya, mereka percaya dan tertarik. Benar-benar pengalaman yang luar biasa,” kata bapak satu anak tersebut.
Pada akhir 2008, Kemal bersama ketiga temannya mendirikan PT Diantara Kode Digital, pengembang software aplikasi BlackBerry dengan nama Better-B. Perusahaan ini pun kemudian menjadi rekanan RIM. “Kami menyediakan aplikasi BlackBerry untuk pelanggan ritel dan korporat,” katanya.
Kemal juga menyambangi tiga operator telekomunikasi besar untuk bekerjasama melengkapi konten aplikasi mereka. Salah satunya, Better-B membuat sistem belanja dengan ponsel alias virtual mall.
Dengan virtual mall, pelanggan bisa mengunduh aplikasi, wallpaper, ring tone, info merchant yang menawarkan diskon, sampai tip bermanfaat. “Kami akhirnya bekerjasama dengan PT Excelcomindo Pratama (XL) dengan nama layanan XL Mall,” tutur Kemal.
Total, Better-B menyediakan sebanyak 30 aplikasi untuk pelanggan BlackBerry XL, baik ritel maupun korporat. Saat ini, menurut Kemal, lebih dari 40.000 pelanggan BlackBerry XL aktif mengakses aplikasi XL Mall setiap bulan.
Walhasil, dengan tarif berkisar Rp 5.000–Rp 15.000 setiap kali download, total pendapatan dari aplikasi itu mencapai Rp 500 juta per bulan. Karena Better-B mendapat jatah bagian 40 persen, omzet Kemal mencapai Rp 200 juta sebulan, hanya dari satu aplikasi itu saja. ( Yudo Widyanto /Kontan)
Harris, Mengolah Limbah Lewat Batik

Oleh Siwi Nurbiajanti
KOMPAS.com - Keprihatinan terhadap banyaknya sampah yang mengotori lingkungan mendorong Harris Riadi untuk terus berkreasi. Ia mencoba memperpanjang manfaat barang dengan mengolah limbah menjadi karya batik bernilai ekonomis.
Sebelum menjadi pembatik, Harris adalah pelukis. Ia pernah mengenyam pendidikan seni rupa di Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta, dan lulus tahun 1979. Ia melanjutkan pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (yang kemudian melebur menjadi Institut Seni Indonesia), tetapi tak tamat.
Mulai tahun 1982, ia malang melintang menjadi pelukis di Jakarta, Solo, dan Bali selama sekitar 15 tahun. Di tengah kesibukan melukis, ia pernah menjadi desainer batik di salah satu perusahaan batik di Solo. Kegiatan itu dilakoninya selama sekitar enam tahun, mulai tahun 1983. Harris kembali ke kota kelahirannya, Pekalongan, pada 1997. Ia ingin mandiri dan berinovasi.
Dia membuka usaha di rumah orangtuanya di Pekajangan, Kabupaten Pekalongan. Kini, pemilik usaha Bintang Batik ini telah memiliki tempat kerja sendiri di Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, Kota Pekalongan.
Komitmennya sebagai seniman lukis membuat Harris tak membuka usaha batik yang diproduksi secara massal. Alasannya, batik itu seni lukis, pengerjaannya harus benar-benar lewat pikiran.
Saat berlangsung Piala Dunia 2006, ia memanfaatkan momen itu untuk berkreasi. Harris memproduksi sekitar 100 lembar kain batik bermotif bola dan motif orang menendang bola. Saat itu, pesanan batik motif bola diperoleh dari Bandung, Jakarta, Semarang, bahkan Jerman. Pada hari Valentine tahun 2007, ia juga membuat motif batik kodok sedang bercinta.
Kreasi Harris tak sekadar motif baru. Ia juga membuat batik yang ramah lingkungan dengan menggunakan pewarna alam. Selama ini, bahan pewarna kimia telah mencemari dan membuat keruh air sungai di kotanya.
Maka, dia mewarnai batik kreasinya dengan pewarna alam atau pewarna berbahan hasil alam. Misalnya, kulit bawang merah untuk pewarna merah, bunga sepatu untuk warna violet, kulit biji jelawe untuk warna hitam, kayu mahoni untuk warna coklat, dan daun nangka untuk warna kuning. ”Saya tak ingin menambah beban lingkungan.”
Meski demikian, dalam beberapa karya ia juga menggunakan pewarna bahan kimia. Masih sekitar 40 persen karyanya yang menggunakan pewarna kimia.
Kertas pembungkus
Kecintaan pada lingkungan juga membangkitkan kreasi Harris untuk memanfaatkan limbah sebagai bahan batik. Pada 2006 ia memanfaatkan kotoran sapi dicampur kulit tebu dan rumput sebagai pewarna kain batik.
Meski saat itu mendapat reaksi keras dari masyarakat, ia pantang menyerah. Awal tahun 2007 ia membatik di atas kertas atau kantong bekas pembungkus semen. Kantong semen yang hanya menjadi sampah dan dijual secara kiloan itu dia olah menjadi produk batik yang bernilai ekonomis.
Batik dari kantong semen dimanfaatkan Harris untuk membuat gorden, sarung bantal, tas, dan sandal. Namun, dia tak memanfaatkan kertas batik dari kantong semen untuk pakaian dengan alasan estetika.
Harris bercerita, proses pembuatan batik kantong semen tak beda dengan pembuatan kain batik lainnya. Hanya saja, pewarna yang digunakan dalam membuat kertas batik harus alami. Bila menggunakan pewarna berbahan kimia, kantong semen akan hancur.
Dalam sebulan ia memproduksi sekitar 200 lembar kertas bekas pembungkus semen. Sebagian besar produknya itu dikirim ke Jakarta dengan harga puluhan hingga ratusan ribu rupiah per unit.
Harris menuturkan, ada dua metode pembuatan kertas batik dari kantong semen. Metode pertama, membatik kantong semen yang sudah dibersihkan tanpa diolah lebih dulu. Setelah kertas dibatik, ia baru membuatnya sebagai aksesori rumah tangga.
Metode kedua, dengan memilin potongan kantong semen menjadi tali, kemudian merajutnya menjadi berbagai aksesori. Setelah rajutan terbentuk, baru dia membatik di atasnya. Kertas batik yang dipilin ataupun yang tak dipilin sama kualitasnya. Aksesori rumah tangga dari kertas batik itu juga dapat dicuci.
Tak beralih fungsi
Harris mengatakan, upaya memopulerkan kertas batik dari kantong semen berawal saat dia melihat pemulung yang sedang mengangkut kantong semen. Di matanya, kantong semen itu seakan menjadi sesuatu yang tak berharga.
Kreativitasnya untuk memanfaatkan limbah semakin terusik ketika ia menemukan kertas bekas berbahan timah di salah satu tempat pembuangan sampah di Jakarta. Kertas itu tak hancur dibakar dan limbahnya mengotori lingkungan.
Dia lalu memungut kertas itu dan mengolahnya menjadi batik. Upaya yang dilakukannya sejak Juli 2009 itu membuahkan hasil. Kertas berbahan timah yang diduga berbahaya bagi lingkungan bisa dimanfaatkan dan dijadikan produk permanen. Beberapa produk yang dihasilkan dari limbah kertas timah adalah tas laptop, kotak tisu, dan gesper.
”Kalau bumi tak diselamatkan dari limbah, ini berbahaya,” tutur Harris yang masih berusaha mencari kemungkinan untuk mengolah berbagai limbah lain. Limbah yang mengotori lingkungan banyak jenisnya, dan selama ini relatif hanya berpindah tangan, tidak beralih fungsi.
Oleh karena itu, keberadaan limbah harus dikurangi, dengan memperpanjang waktu pemakaian. Caranya antara lain dengan mengolahnya kembali menjadi produk permanen yang bisa memberikan manfaat bagi manusia.
Harris menyadari, memanfaatkan limbah untuk membatik tak mudah dilakukan. Upaya ini membutuhkan ketelatenan dan uji coba berkali-kali. Produk yang dihasilkan juga tak sebanyak produk batik biasa sehingga pendapatan dari usaha ini amat terbatas.
Meski demikian, ia bangga dan senang bisa melakukannya. Harris ingin agar para pembatik lain pun mau akrab dengan lingkungan. Hasil lain yang diperolehnya dengan mengolah limbah adalah keakrabannya dengan para pemulung. Dia juga tak segan menularkan ilmunya kepada orang lain. ”Ini ekonomi kreatif berbasis budaya,” katanya memberi alasan.
Perjalanan Harris sebagai seniman lukis dan batik memang sebuah proses panjang. Saat hendak memulai kehidupan sebagai seniman lukis, ia sempat mendapat tentangan dari sang ayah, mendiang Chairil Kasmuri, seorang tentara. Namun, di akhir hayatnya, sang ayah justru mendukung setelah ia mampu mandiri dari usaha batiknya. ”Saya anak keempat dari sembilan bersaudara, dan hanya saya yang menjadi pekerja seni,” katanya optimistis.